Cara Import File AutoCAD DXF Ke SAP2000

Dalam membuat pemodelan geometri struktur, selain kita bisa membuatnya melalui program SAP2000 itu sendiri, juga bisa dibuat melalui program yang lain. Salah satunya adalah AutoCAD

AutoCAD ? Kenapa harus AutoCAD ?

Sebagai program bantu penggambaran, AutoCAD sudah tidak diragukan lagi kehandalannya. Kemudahan dalam penggambaran dan tingkat presisi yang dihasilkan telah terbukti dan teruji pada program ini. Sehingga dengan mengkolaborasikan dua program ini yaitu AutoCAD untuk menggambar elemen struktur (structural modeling) dan SAP2000 untuk melakukan analisa struktur, merupakan sebuah langkah yang sangat tepat.  

Dalam beberapa kasus pemodelan struktur tertentu, membuat pemodelan melalui program AutoCAD bisa lebih efektif jika dibandingkan dengan membuat pemodelan melalui SAP2000. Semisal, menggambar elemen arc untuk membuat space frame.

Space Frame (S1)

Tentunya ini akan lebih cepat dibuat jika kita mengeksekusinya dengan program AutoCAD daripada harus berlama-lama bersusah payah membuatnya di SAP (bisa boring abiz…..brow!)

Nah…untuk posting kali ini saya akan ajak anda untuk membahas cara mengimport gambar AutoCAD ke program SAP2000, yang dimulai dari awal penggambaran di AutoCAD sampai proses importing ke SAP.  Siapa tahu mungkin sobat kampuz punya cara lain yang lebih cepat dari cara yang saya uraikan ini. Kita shearing aja… Oke!

Sebagai suatu contoh, kita akan menggambar portal seperti gambar dibawah ini

4

2 (Gb.1)…dari AutoCAD

3 (Gb.2)…Setelah diimport ke SAP

  

Mempersiapkan modeling struktur di AutoCAD

1. Sebelum menggambar di AutoCAD, tentukan dulu sistem unit penggambaran anda. Unit penggambaran (drawing units) bisa anda akses di menu pulldown Format > Units.

Untuk contoh kasus ini, kita menggunakan satuan millimeter. Untuk itu pada kotak insertion scale, pilih millimeter

5

2. Biar frame/elemen kita punya titik acuan nantinya ketika di import di SAP, maka ketika kita membuat gambar di AutoCAD, kita harus tentukan titik acuannya. Dan titik acuan yang paling baik menurut saya adalah titik 0,0. Untuk itu buat objek portal berikut dengan titik acuan seperti tergambar dibawah ini (Nb : cara penggambaran tidak dibahas, karena saya anggap sobat kampuz sudah bisa membuatnya)

6

3. Buat layer baru dari portal yang anda buat dengan nama layer “Frame” .

layer

4. Sekarang buat elemen Pelat dan Shearwall dengan 3D Face (lihat Gb dibawah ini). Kemudian buat layernya dan beri nama dengan “Shell

3dface

 

layer2

 

 

 

 

 

 

2

5. Jika sudah, maka gambar telah siap untuk diimport. Tekan Ctrl+S, maka akan muncul kotak dialog Save Drawing As, beri nama file dengan “Portal” kemudian di kotak Files of Type, pilih AutoCAD 2004/LT2004 DXF (*.dxf). Ini artinya file akan disimpan dalam format DXF. Klik Save

portal

6. Sekarang buka program SAP 2000. Klik  File > Import > AutoCAD.dxf_File…

import SAP

7. Maka akan muncul kotak dialog Import DXF File, Kemudian cari lokasi file Portal DXF yang telah anda simpan tadi. Pilih file tersebut, kemudian klik Open

kotak import

8. Di kotak Import Information, pilih direction Z pada frame Global Up Direction, dan Kgf.mm pada frame Units (Nb : tidak harus Kgf.mm, anda boleh pilih Ton.mm, N.mm atau yang lainya, asalkan yang penting satuan panjangnya adalah mm). Klik OK

import information

9. Akan muncul kotak dialog DXF Information. Pilih Frame pada kotak Frame, dan Shell pada kotak Shell. Klik OK

dxf information

10.Jika sudah maka dilayar SAP anda sekarang telah terimport gambar portal yang sudah kita buat sebelumnya di AutoCAD.

– Jika seandainya gambar belum keluar. Klik tombol 3-D (Set Default 3D View) pada menu toolbar SAP anda

3d view

3d portal

11. Sekarang tekan Ctrl+E pada keyboard. Kemudian pada Frame General, ceklist/pilih Extrude view dan Fill Objects. Sehingga gambar akan tampak dalam modus 3D (warna dan ketebalannya ditampilkan)

3

Catatan :

1. Anda lihat sekarang. Titik acuan yang sudah kita tentukan posisinya di AutoCAD. Ditampilkan dengan posisi yang sama pada SAP

2. Type element yang kita buat di AutoCAD dan disimpan dalam bentuk DXF. Akan dikenali dan didefinisikan oleh SAP sebagai berikut :

dxf element

Jadi ketika anda sebelumnya membuat sebuah element dengan menggunakan perintah lines pada AutoCAD, maka SAP menerjemahkan menjadi Frame, begitu juga dengan 3D faces, maka SAP akan menerjemahkannya menjadi Shell (element pelat)

Sekian! dan semoga bermanfaat!…..

 

 

 

Cara Memutar Frame Pada SAP2000

Katakanlah saya mempunyai model 3D frame, seperti dibawah ini.

A1   A2

Sekarang lihat kolom yang saya lingkari pakai warna putih pada gambar diatas.

Ukuran Kolom diatas adalah 15/40

Untuk menyesuaikan dengan bentuk denah dan pertimbangan tertentu dari segi arsitektural, maka kolom as 1-C dan as 1-D (yang saya lingkari pakai warna putih pada gambar diatas) harus diubah arah hadapnya.

A3

Nah…untuk kebutuhan analisa struktur (SAP), tentunya kolom tersebut harus diputar dong arah hadapnya, supaya dapat diketahui apakah dengan memutar arah hadap kolom tersebut nantinya malah membuat struktur kolom di lantai 1 tidak stabil dan membuat desain tulangan menjadi boros ataukah malah sebaliknya?

Caranya seperti ini

1. Pilih frame yang dimaksud (dalam hal ini frame kolom LT 1 dan LT 2). Frame yang terpilih atau terseleksi ditandai dengan munculnya garis putus-putus di frame tersebut.

A4

2. Dari menu pulldown, klik Assign > Frame > Local Axes

A5

3. Maka akan keluar kotak dialog “Frame Local Axis”. Pada kotak Angle in Degrees isi dengan nilai 90. Yang artinya frame akan diputar terhadap sumbu lokalnya sejauh 90 derajat. Kemudian klik OK

A6

Sekarang anda lihat. Kolom sudah berubah arah hadapnya (diputar 900)

A7 A8

Lihat perubahannya :

Sebelum diputar             Sesudah diputar

b3

b1

          Sebelum diputar                  Sesudah diputar

b4

b2

Semoga bermanfaat!…….

Perencanaan Ruko Dua Lantai Dengan Program Bantu STAAD Pro 2004 (Part 3 Lanjutan)

Ok! mari kita lanjutkan pembahasan kita. Langsung aja ya….

Setelah kita mendefinisikan beban mati pelat lantai dan pelat atap, maka dengan cara yang sama kita akan definisikan juga untuk beban hidup yang bekerja pada pelat lantai dan pelat atap.

3.1 Menempatkan Baban Terdefinisi Ke Struktur

3.1. Beban Hidup Pelat lantai & Pelat Atap

Beban hidup sebesar 250 kg/m2 akan kita tempatkan ke pelat lantai. Ada dua cara yang bisa kita lakukan.

  • Yang pertama adalah anda mengulangi kembali langkah no 5 s/d 9 pada posting saya di PART.3. Caranya sama seperti itu, cuma bedanya anda harus definisikan beban baru pada kotak dialog Create New Load dengan nama BEBAN HIDUP PELAT, kemudian di kotak Beam Loads>Floor With Y Range, anda isi bebannya menjadi –250 kg/m2 untuk beban hidup pelat lantai, dan –100 kg/m2 untuk beban hidup pelat atap. Sedangkan Range bebannya (Define X,Y & Z Range) tidak usah diganti.

Beban Baru (Hidup)

       u7 

Beban Hidup Pelat Lantai

u4

u5

u6

Beban Hidup Pelat Atap

u8

  • Yang kedua adalah mendefinisikannya melalui menu STAAD EDITOR, yang merupakan menu record yang berisi rekaman semua perintah yang telah kita berikan kepada STAAD dari pertama kali kita buka program hingga sampai detik ini. ( cara ini yang kita bahas )

Sekarang ikuti saya,

1. Klik icon STAAD EDITOR, (yang saya lingkari pakai warna merah), maka akan muncul kotak Script Editor

staad editor

script editor

2. Sekarang perhatikan Script diatas, pada bagian ini

LOAD 2 BEBAN MATI PELAT

FLOOR LOAD
YRANGE 0 3.8 FLOAD -351 XRANGE 0 6 ZRANGE 4 16
YRANGE 0 3.8 FLOAD -351 XRANGE 0 2.9 ZRANGE 0 4
YRANGE 0 3.8 FLOAD -351 XRANGE 2.9 6 ZRANGE 0 1.5
YRANGE 7.4 7.4 FLOAD -279 XRANGE 0 6 ZRANGE 0 16
FINISH

Arti dari scrip diatas adalah sebagai berikut :

  1. YRANGE 0 3.8 FLOAD -351 XRANGE 0 6 ZRANGE 4 16
    artinya : beban sebesar 351 kg/m2 bekerja pada pelat dengan range area sepanjang 0 s/d 6 meter arah sumbu X, dan 4 s/d 16 meter arah sumbu Z, dengan rentang ketinggian beban antara 0 s/d 3.8 meter
  2. YRANGE 0 3.8 FLOAD -351 XRANGE 0 2.9 ZRANGE 0 4
    artinya : beban sebesar 351 kg/m2 bekerja pada pelat dengan range area sepanjang 0 s/d 2.9 meter arah sumbu X, dan 0 s/d 4 meter arah sumbu Z, dengan rentang ketinggian beban antara 0 s/d 3.8 meter
  3. YRANGE 0 3.8 FLOAD -351 XRANGE 2.9 6 ZRANGE 0 1.5
    artinya : beban sebesar 351 kg/m2 bekerja pada pelat dengan range area sepanjang 2.9 s/d 6 meter arah sumbu X, dan 0 s/d 1.5 meter arah sumbu Z, dengan rentang ketinggian beban antara 0 s/d 3.8 meter
  4. YRANGE 7.4 7.4 FLOAD -279 XRANGE 0 6 ZRANGE 0 16
    artinya : beban sebesar 279 kg/m2 bekerja pada pelat dengan range area sepanjang 0 s/d 6 meter arah sumbu X, dan 0 s/d 16 meter arah sumbu Z, dengan rentang ketinggian beban 7.4 meter

Catatan :

Beban yang bekerja pada ketinggian 3.8 meter adalah beban pelat lantai, sedangkan beban yang bekerja pada ketinggian 7.40 m adalah beban pelat atap, Nah…untuk itu kita kasih catatan kecil, agar kita lebih mudah nantinya dalam membaca script. Untuk itu sisipkan kata-kata berikut dengan diawali tanda *.

LOAD 2 BEBAN MATI PELAT

FLOOR LOAD

*PELAT LANTAI
YRANGE 0 3.8 FLOAD -351 XRANGE 0 6 ZRANGE 4 16
YRANGE 0 3.8 FLOAD -351 XRANGE 0 2.9 ZRANGE 0 4
YRANGE 0 3.8 FLOAD -351 XRANGE 2.9 6 ZRANGE 0 1.5

*PELAT ATAP

YRANGE 7.4 7.4 FLOAD -279 XRANGE 0 6 ZRANGE 0 16
FINISH

Kode script diatas adalah kode script dari beban mati pelat lantai dan pelat atap.

Nah….sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana cara memasukan beban hidup pelat lantai dan pelat atap melalui STAAD EDITOR ini ?

Gampang….!. Kita tinggal Copy kode script dari beban mati pelat lantai & atap diatas, kemudian kita Paste dibawahnya. Tapi ingat…, Paste nya diatas kata FINISH lho. Biar lebih jelas perhatikan langkah-langkahnya….

z

Catatan:

Ganti hasil paste tadi dengan angka-angka yang saya blok pake warna kuning. Ingat hanya pada bagian yang berwarna kuning saja yang dirubah, selain itu tidak.

Sehingga secara keseluruhan hasilnya akan menjadi seperti ini.

SCRIPT

3. Jika sudah, maka klik Save (atau juga bisa tekan Ctrl + S). Klik Close (pojok kanan atas). Klik OK

Sekarang kita telah memiliki 3 Pembebanan yaitu berat sendiri, beban mati pelat, dan beban hidup pelat

b1

Beban Hidup Pelat Lantai & Atap

b2

4. Sekarang kita akan pasang beban dinding di Lantai 2 dan di Atap. Dimana tinggi dinding lantai 2 adalah 3.60 m, dan tinggi dinding bata di atap adalah 30 cm (biar air hujan tidak tampias kebawah),

  • Beban dinding Lt 2 = 3.60 m x 250 kg/m2 = 900 kg/m’……..(catatan: 250 kg/m2 = berat jenis dinding bata)
  • Beban dinding Atap = 0.3 m x 250 kg.m2 = 75 kg/m’
  • Beban dinding di balkon tidak ada, karena tidak dipasang pagar dari bata. Untuk pengaman di area balkon rencananya di pasang pagar railing dari besi hollow ukuran 40 x 40 mm (anggap bebanya kecil, jadi diabaikan saja)

Kita mulai dulu dari lantai 2.

– Dari kotak dialog Loads-Whole Structure, Klik New Load, maka akan keluar kotak dialog Create New Loads. Kemudian isi seperti gambar dibawah ini. Klik OK

b4

– Dari kotak dialog Loads-Whole Structure, Klik Member, maka akan keluar kotak dialog Beam Loads. Klik Tab Uniform Force, kemudian isi seperti gambar dibawah ini. Klik OK

b5 Catatan : W1 = –900 Kg/m

Pastikan directionnya pada pilihan GY

– Sekarang anda lihat. Di kotak dialog Loads-Whole Structure telah terdefinisi beban baru yaitu beban dinding seberat 900 kg/m’.

b6

Sekarang kita akan Assign beban tersebut ke struktur. Untuk itu sekarang pergilah ke portal anda

– Pilih elemen balok seperti gambar dibawah ini. Karena pada lokasi tersebut, akan dipasang dinding setinggi 3.6 m (Lihat denah)

G1

– Klik Assign pada kotak dialog Loads-Whole Structure, (Pastikan Assigment method pada pilihan Assign to selected beams). tekan Yes, jika nanti muncul kotak informasi yang menanyakan apakah perintah akan diproses lebih lanjut

b7

– Jika sudah maka hasilnya seperti ini.

b8

5. Sekarang kita akan pasang beban dinding di lantai atap

– Dari kotak dialog Loads-Whole Structure, Klik Member, maka akan keluar kotak dialog Beam Loads. Klik Tab Uniform Force, kemudian isi seperti gambar dibawah ini. Klik OK

b9

Catatan : W1 = –75 Kg/m

Pastikan directionnya pada pilihan GY

– Sekarang anda lihat. Di kotak dialog Loads-Whole Structure telah terdefinisi beban atap yaitu beban dinding seberat 75 kg/m’ (UNI GY –75 kg/m). Klik mouse pada pilihan UNI GY –75 kg.m (lihat gambar dibawah ini)

c1

– Kita beralih dulu ke gambar portal. Sekarang pilih elemen balok seperti gambar dibawah ini (warna merah). Karena pada lokasi tersebut, akan dipasang dinding setinggi 30 cm

c3

– Klik Assign pada kotak dialog Loads-Whole Structure, (Pastikan Assigment method pada pilihan Assign to selected beams). tekan Yes, jika nanti muncul kotak informasi yang menanyakan apakah perintah akan diproses lebih lanjut

c4

– Jika sudah maka hasilnya seperti ini.

c5

Ok!…..Untuk sementara pembebanan kita telah lengkap. Dan tinggal melakukan analisa struktur saja. Pembahasan mengenai analisa struktur dan Verifikasi perhitungan akan kita bahas di posting yang ke-empat (Part.4). Begitu juga dengan pemasangan Sloof dan Assignmet beban dinding lantai 1 akan kita akan ulas secara menarik dan interaktif di bagian akhir dari Perencanaan Ruko Dua Lantai ini…..Insya Allah!

Perencanaan Ruko Dua Lantai Dengan Program Bantu STAAD Pro 2004 (Part 3)

Assalamualaikum…teman2, gimana nech kabarnya?,…semoga baik-baik saja ya….! dan semoga apa yang kita lakukan baik hari ini, esok dan yang akan datang senantiasa diiringi oleh ridho dan maghfiroh dari Allah SWT…amin!

Oke! Sesuai janji saya pada posting sebelumnya, maka untuk kali ini  saya akan melanjutkannya ke pembahasan berikutnya, yaitu Perencanaan Ruko Dua Lantai Dengan Program Bantu Staad Pro 2004 (Part 3) yang membahas mengenai cara mendefinisikan beban-beban (load), dan cara menempatkannya ke struktur (assign load)

1. Mendefinisikan Perletakan (dukungan) Struktur

1. Dari menu page, klik tab Geometri > Support. Kemudian pada menu page disebelah kanan bawah akan muncul kotak dialog Supports-Whole Structure. Klik Create

a1 a2

2. Ok! jika sudah, maka akan keluar kotak dialog Create Support. Klik Fixed > Klik Add

a3

Catatan : Fixed = Jepit

3. Sekarang di kotak Dialog Supports-Whole Structure, telah muncul Support (Perletakan) baru, dan STAAD menamainya dengan S2 Support 2 (lihat gambar dibawah ini).

a4

4. Sekarang klik S2 Support 2, (lihat gambar dibawah)

support

Ok!, kotak Dialog ini jangan diapa-apakan dulu. Sekarang klik tool Nodes Cursor a5

. (posisi tool ini tepat diatasnya tool beam cursor)

5. Tekan Ctrl di keyboard anda, kemudian klik/pilih node-node di posisi end column pada portal anda, (lakukan seperti gambar dibawah ini).

Jika anda mengkliknya benar, maka node yang telah anda klik tadi akan berwarna merah.

node selection

6. Jika semua node telah terpilih dengan benar, maka pada kotak dialog Supports-Whole Structure klik radio button Assign To Selected Nodes, kemudian klik Assign, setelah itu akan muncul kotak konfirmasi yang menanyakan mengenai metode assign yang digunakan, apakah diproses lebih lanjut?. Klik Yes

support2konfirmasi 

 

 

 

 

 

 

 

7. Jika sudah, maka pada portal kita sekarang telah terpasang Support/Perletakan Jepit

portal1

2. Mendefinisikan Beban

2.1 Beban Pelat Lantai

Data-data :

– Tebal Pelat   =  0.12 m

– Tebal Spesi   =  0.10 m

– Tebal Keramik   =  0.10 m

– Bj. Beton  =  2400 kg/m2

– Bj. Spesi per 1 cm tebal  =  21 kg/m2

– Bj. Keramik per 1 cm tebal  =  24 kg/m2

  • Beban Mati Akibat Pelat Lantai :

– Beban Pelat = 0.12 m x 2400 kg/m2 = 288 kg/m2

– Beban Plafond + Penggantung = 18 kg/m2

– Beban Spesi = 21 kg/m2

– Beban Keramik = 24 kg/m2

Total berat beban mati pelat lantai = 288 + 18 + 21 + 24 = 351 kg/m2

2.2 Beban Pelat Atap

Data-data :

– Tebal Pelat   =  0.10 m

– Tebal Spesi   =  0.10 m

– Bj. Beton  =  2400 kg/m2

– Bj. Spesi per 1 cm tebal  =  21 kg/m2

  • Beban Mati Akibat Pelat Atap :

– Beban Pelat = 0.10 m x 2400 kg/m2 = 240 kg/m2

– Beban Plafond + Penggantung = 18 kg/m2

– Beban Spesi = 21 kg/m2

Total berat beban mati pelat atap = 240 + 18 + 21 = 279 kg/m2

2.3. Beban Dinding Bata

Data-data :

– Tinggi dinding lantai 1   =   3.80 m

– Tinggi dinding lantai 2   =   3.60 m

– Bj. dinding bata   =   250 kg/m2

  • Beban dinding lantai 1 per meter lari = 3.80 m x 250 kg/m2 = 950 kg/m
  • Beban dinding lantai 2 per meter lari = 3.60 m x 250 kg/m2 = 900 kg/m

2.4 Beban Hidup

Untuk pelat lantai  =  250 kg/m2

Untuk pelat atap   =  100 kg/m2

2.3 Beban Kombinasi

Beban Mati ( DL )

– Berat sendiri struktur, Beban pelat lantai, pelat atap & dinding

Beban Hidup ( LL )

Beban Kombinasi (COMB)

Kombinasi 1 = 1.4 DL

Kombinasi 2 = 1.2 DL + 1.6 LL

3. Mendefinisikan Beban Terdefinisi Ke Struktur

a61. Yang pertama kita lakukan adalah menentukan beban akibat berat sendiri yang termasuk dalam kategori beban mati (DL). Caranya dari Page menu General, klik Load. Secara otomatis kotak dialog Set Active Primary Load Case akan muncul. klik Create New Primary Load Case. Pastikan nomor pembebanan yang terisi adalah 1. Pada Loading Type List pilih Dead. Terakhir isi Title yang sifatnya optional dengan Berat Sendiri, lalu klik OK

a7 

2. Tampilan layar anda sekarang akan berubah pada mode loading dengan tab aktif yaitu Loads, dimana data area tampil kotak dialog Load Values dan Loads

a8

3. Satuan dari pembebanan yang akan kita berikan ke struktur adalah kilogram meter. Untuk itu pastikan input units nya adalah kilogram meter. Caranya klik icon input unit (yang saya lingkari pakai warna merah), kemudian pilih meter pada frame Length Units dan kilogram pada frame Force Units 

input units

satuan baru

Jika sudah maka status unit yang terletak di sebelah kanan bawah dari menu data area akan berubah ke Kg-m

aa1

4. Sekarang dari kotak dialog Loads, klik Selfweight. Maka akan muncul kotak dialog Selfweight Load. Kemudian pada frame Direction klik Y, dan isi factor dengan nilai –1 yang berarti arahnya kebawah. Lalu klik Assign untuk mengakhiri.

aa2

Anda lihat kotak dialog Loads di Loads Spesification list  disebelah kanan layar anda, akan nampak spesifikasi beban yang telah anda definisikan sebelumnya.

aa3

5. Setelah berat sendiri sudah kita definisikan ke struktur, maka sekarang akan kita definisikan juga untuk beban pelatnya. Kita mulai dari pelat lantai terlebih dahulu. Sekarang lihat gambar ini.

Beban Plat

Di posisi lantai dua, ada bagian yang tidak boleh di Assign beban pelat yaitu bagian Void Tangga. Untuk itu kita mulai Assign beban pelat pada area A,B,C & D

a12

6. Biar lebih mudah dalam menempatkan beban pelat ke struktur, maka tidak ada salahnya jika kita menampilkan dimensi (ukuran) dari elemen struktur portal kita. Yang mana tujuannya adalah sebagai rujukan untuk memudahkan dalam menentukan range dari tributary area pembebanan. Caranya Klik tool dimension (yang saya lingkari pakai warna merah) kemudian klik display

ab2

a14

Langkah selanjutnya, anda klik New Load pada kotak dialog Loads. Maka aka keluar kotak dialog New Create Load. Pastikan di Listbox nya pada pilihan Dead, dan isi Titlenya dengan nama BERAT MATI PELAT. Klik OK

U1

7. Sekarang pada kotak dialog Loads klik Member. Setelah kotak dialog Beam Load muncul klik tab Floor With Y Range. Kemudian isi seperti dibawah ini. Lalu klik Add

a13 a15

Penjelasannya adalah sebagai berikut :

Force = –351 kg/m2,

  • Artinya beban mati akibat pelat sebesar 351 kg/m2 dengan arah kerja beban kebawah

Define Y Range : Min = 0, Max = 3.80,

Define X Range : Min = 0, Max = 6.00,

Define Z Range : Min = 4, Max = 16.00,

  • Artinya Tributary Area Pembebanan, akan ditempatkan pada rentang ketinggian antara 0 sampai 3.80 m, dengan range area sepanjang  0 sampai 6 m arah sumbu X. Dan 4 sampai 16 m arah sumbu Z.

    detail coordinat

Sampai disini paham kan……!

Sekarang lihat layar anda. Portal kita sudah ter Assign beban pelat dengan range area yang sudah kita definisikan seperti diatas

tributari plat 

8. Definisikan juga untuk pelat dengan area seperti tergambar dibawah ini.

plat1

Caranya dari kotak dialog Loads klik Member. Setelah kotak dialog Beam Load muncul klik tab Floor With Y Range. Kemudian isi seperti dibawah ini. Lalu klik Add

a16

Jika sudah maka hasilnya akan seperti ini.

load 

8. Lanjutkan juga untuk pelat dengan area seperti tergambar dibawah ini.

aa4

Caranya dari kotak dialog Loads klik Member. Setelah kotak dialog Beam Load muncul klik tab Floor With Y Range. Kemudian isi seperti dibawah ini. Lalu klik Add

aa5

Jika sudah maka hasilnya akan seperti ini.

load2

9. Sekarang kita akan menempatkan beban mati akibat pelat atap. Caranya sama seperti sebelumnya, bedanya hanya pada masalah define range untuk tributary area bebannya saja.

plat atap

Untuk itu, dari kotak dialog Loads klik Member. Setelah kotak dialog Beam Load muncul klik tab Floor With Y Range. Kemudian isi seperti dibawah ini. Lalu klik Add

ab5

Force = –279 kg/m2 (ingat karena ini beban pelat atap, jadi bukan –351 kg/m2 lagi lho….hehehe)

Perhatikan untuk yang bagian Y Range. Kenapa kok tidak diisi dengan min = 0 dan max = 7.4. ?

Karena apabila nilai minimumnya kita isi dengan 0 dan maximumnya kita isi dengan 7.40 m. Berarti definisi beban akan berada pada rentang ketinggian antara 0 sampai 7.40. Ini artinya beban plat dilantai dua akan menjadi dobel karena beban pelat atapnya ikut ter assign dilantai 2

Jika sudah maka hasilnya akan seperti ini

Beban Plat2

Dan di menu data area, yaitu di kotak Loads – Whole Structure, sekarang telah terdefinisi data beban mati pelat lantai & pelat atap

U2

Untuk menampilkan tributari area. Caranya klik kanan pada area kosong di gambar tampilan, maka akan keluar floating menu. Pilih Labels…, kemudian pada frame Loading Display Option, Ceklist Load Values. Klik OK

U3

 tributari area

 

Penjelasan tentang tributari area, dan megapa STAAD Pro kok menghitungnya seperti demikian? Insya ALLAH akan saya bahas ke posting berikutnya tapi masih tetap pada pembahasan bagian yang ketiga (Part 3). Cara definisi dan assign beban dinding dan beban hidup juga akan dibahas pada posting tersebut.

Maaf…Maaf…Maaf ya teman-teman, mengapa pembahasanya kok saya putus, alias belum tuntas…Sebab hari ini badan saya agak meriang (kena flu). Insya ALLAH pembahasan mengenai definisi dan assign pembebanan akan saya tuntaskan di posting selanjutnya. Yaitu di bagian yang ketiga (Part 3 Lanjutan)

Excel Untuk Teknik Sipil (Part 1)

Microsoft Excel adalah program spreadsheet atau pengolah angka yang paling populer dan banyak digunakan saat ini. Disukai banyak kalangan karena pengoperasiannya yang relatif mudah dengan hasil yang memuaskan. Dalam lingkup Teknik Sipil, Excel sudah mendapat tempat tersendiri bagi profesi mereka.

Salah satu kekuatan Excel adalah bahasa macro-nya. Hal ini tentu tidak lepas dari aplikasi Visual Basic (Visual Basic for Application) yang bekerja dengan Excel. Macro yang selama ini kita kenal, umumnya digunakan otomasi langkah-langkah pekerjaan dalam aplikasi perkantoran. Namun dalam hal lain, juga dapat digunakan untuk aplikasi perhitungan. Disini terdapat kombinasi yang unik antara spreadsheet dan Visual Basic yang ternyata banyak memberikan kemudahan bagi pemakai jika membuat program perhitungan Excel.

Bekerja dengan Excel berarti kita menginginkan suatu penyelesaian yang cepat dan praktis, namun diharapkan dengan fasilitas yang maksimal pula. Jadi, tinggal bagaimana memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang ada sebaik mungkin. Tidak ada aturan baku memang dari Microsoft tentang aplikasi Excel untuk rekayasa teknik. Sebab, apabila kombinasi antara fungsi-fungsi Excel dan aplikasi VB diterapkan, aplikasinya akan sangat luas.

Nah…..! berikut ini adalah salah satu contoh dari aplikasi Excel dibidang Teknik Sipil….yang penulis ambil dari www.migas.com

1. Slab, Beam, Column & Foundation Design

Download Spreadsheet : Slab, Beam, Column & Foundation Design ( Klik disini)

a1

a2  a3

2. Steel, Column Base Plate Analysis

Download Spreadsheet : Steel, Column Base Plate Analysis (Klik disini)

a4

3. Steel, Beam & Column Analysis

Download Spreadsheet : Steel, Beam & Column Analysis (Klik disini)

a5a6

4. Beam End Connection Using Beam Tab

Download Spreadsheet : Beam End Connection Using Beam Tab (Klik disini)

a7

5. Beam End Connection Using Clip Angels

Download Spreadsheet : Beam End Connection Using Clip Angels (Klik disini)

a8

6. Continuous Concrete Beams

Download Spreadsheet : Continuous Concrete Beams (Klik disini)

a9

7. SmartBeam Composite Castellated Beam Design

Download Spreadsheet : SmartBeam Composite Castellated Beam Design (Klik disini)

a10

8. SmartBeam Non-Composite Castellated Design

Download Spreadsheet : SmartBeam Non-Composite Castellated Design (Klik disini)

a11

9. Wave And Wind Rose

Download Spreadsheet : Wave And Wind Rose (Klik disini)

a12

Semoga Bermanfaat….!