Perencanaan Ruko Dua Lantai Dengan Program Bantu STAAD Pro 2004 (Part 2)

 

Posting ini adalah lanjutan dari posting saya sebelumnya yang membahas mengenai “Perencanaan Ruko Dua Lantai Dengan Program Bantu STAAD Pro 2004 (Part1)”. Adapun materi pembahasan di postingan part. 2 ini adalah mengenai cara mendefinisikan material dan profil penampang.

Baik langsung kita mulai aja ya smile_wink……

1. Memberi Nomor Ulang (Renumber) Semua Element Struktur (beam)

1. Agar sekuensi portal kita teratur nantinya dalam proses analisis, maka kita akan merenumber beam dan node terlebih dahulu.

– Klik icon beam cursor, lalu pilih semua batang

beam cursor

– Klik menu pulldown Geometri > Renumber > Members …

renumbers

– Akan keluar kotak konfirmasi seperti dibawah ini. Klik Yes

renumber box3

– Setelah itu akan muncul kotak dialog renumbers. Isi nilai awal batang dengan 1 dengan konsekuensi ascending.Lalu klik Accept

renumber box

– Akan muncul kotak informasi bahwasanya beam dan jointnya sudah di renumber

renumber box2

2. Menentukan Jenis Material Dan Profil

Material

  • Material struktur adalah beton (concrete) dengan berat jenis beton = 2400 kg/m3
  • fc (kuat tekan beton) = 25 MPa = 254.929 kg/cm2
  • fy (besi untuk tulangan utama), dipakai U-32 = 3200 kg/cm2
  • fys (besi untuk tulangan sengkang), dipakai U-24 = 2400 kg/cm2

Dimensi Balok

Tinggi Balok (H) diambil antara 1/10L – 1/12L. ( dimana L = Lebar bentang = 6 m = 600 cm ). Sedangkan lebar balok diambil antara 2/3 H – 1/2 H

  • Tinggi balok (H) ditentukan = 1/12L = 1/12 ( 600 ) = 50 cm
  • Lebar balok ditentukan (B) = 1/2 H = 1/2 (50) = 25 cm
  • Jadi Ukuran Balok Utama = H/B = 25/50

Sedangkan untuk balok anak & konsol ditentukan:

  • Untuk balok anak diambil = H/B = 20/40
  • Untuk balok konsol atap diambil = H/B = 20/35
  • Untuk balok konsol balkon = H/B = 20/30

Dimensi Kolom

Kolom direncanakan dengan ukuran 30/30

3. Memasukan Data Material & Profil Penampang Terdefinisi Ke Program

3.1 Mendefinisikan Balok Utama

1. Dari menu General klik tab property. Kemudian dari data area klik define pada kotak dialog properties

aa1

define box

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kotak dialog property akan muncul.

aa2

1. Klik Tab Rectangle

2. Isikan parameter balok ( dalam hal ini ZD/YD = B/H = 20/50 )

– YD isi = 0.5…..(50 cm)

– ZD isi = 0.25…..(25 cm)

3. Ceklist material

4. Pilih Material CONCRETE.

5. Klik Add

6. Klik Close

3.2 Mendefinisikan Balok Anak

– Mendefinisikan balok anak 20/40

aa3

1. Klik Tab Rectangle

2. Isikan parameter balok ( dalam hal ini ZD/YD = B/H = 20/40 )

– YD isi = 0.4…..(40 cm)

– ZD isi = 0.2…..(20 cm)

3. Ceklist material

4. Pilih Material CONCRETE.

5. Klik Add

6. Klik Close

Dengan cara yang sama seperti diatas, definisikan juga untuk balok konsol (Atap) B = 20/35, Balok konsol (balkon) B = 20/30, dan Kolom 30/30

Jika sudah maka dikotak Properties-whole Structure, telah tercantum data-data balok dan Kolom yang telah anda definisikan tadi.

a7

4. Membuat Beam Group

Tujuan dari membuat Beam Group adalah untuk mempermudah dalam pemilihan batang. Jadi nantinya kita tidak akan bersusah payah untuk mengklik elementnya satu persatu

Untuk itu kita buat group batang dari portal kita sebanyak 5 group, yaitu :

  1. Group Balok Induk
  2. Group Balok Anak
  3. Group Balok konsol (atap)
  4. Group Balok konsol (balkon)
  5. Group Kolom

4.1 Membuat Group Untuk Balok Induk

1. Tekan Ctrl+G pada keyboard anda. Akan keluar kotak dialog Give Group Name.

aa5

– Pada kotak Group Name ketik BALOK_INDUK. Adapun aturan pemberian nama group, penggunaan karakter spasi tidak diperbolehkan. Anda dapat menggunakan underscore untuk menggantikan karakter spasi tersebut.

– Kemudian pada select type, pilih Beam

– Klik OK

2. Akan muncul kotak dialog Create Group. (jangan di apa-apakan dulu kotak dialog Create Group ini).

3. Sekarang seleksi element balok induk dengan cara tekan Ctrl di keyboard anda (jangan dilepas) kemudian klik satu persatu balok sehingga terseleksi seperti gambar dibawah ini. 

beam seleksi1

Jika sudah, sekarang kembali lagi ke kotak dialog Create Group.

aa7

– Klik/Pilih group BALOK_INDUK.

– Pastikan Assign method di posisi Associate to selected Geometry

– klik Associate

4.2 Membuat Group Untuk Balok Anak

1. Tekan Ctrl+G pada keyboard anda. Akan keluar kotak Create Group. Klik Create

aa8

Akan keluar kotak dialog Give Group Name.

aa9

– Pada kotak Group Name ketik BALOK_ANAK. Adapun aturan pemberian nama group, penggunaan karakter spasi tidak diperbolehkan. Anda dapat menggunakan underscore untuk menggantikan karakter spasi tersebut.

– Kemudian pada select type, pilih Beam

– Klik OK

2. Akan muncul kotak dialog Create Group. (jangan di apa-apakan dulu kotak dialog Create Group ini).

3. Sekarang seleksi element balok anak dengan cara tekan Ctrl di keyboard anda (jangan dilepas) kemudian klik satu persatu balok sehingga terseleksi seperti gambar dibawah ini. 

beam seleksi2

Jika sudah, sekarang kembali lagi ke kotak dialog Create Group.

aa10

– Klik/Pilih group BALOK_ANAK.

– Pastikan Assign method di posisi Associate to selected Geometry

– klik Associate

4.3 Membuat Group Untuk Balok Konsol (Atap)

– Lakukan dengan cara yang sama seperti diatas, (beri nama group : BKONSOL_ATAP)

4.4 Membuat Group Untuk Balok Konsol (Balkon)

– Lakukan dengan cara yang sama seperti diatas, (beri nama group : BKONSOL_BALKON)

4.5 Membuat Group Untuk Kolom

– Lakukan dengan cara yang sama seperti diatas, (beri nama group : KOLOM)

smile_winkJika telah selesai semuanya, maka selanjutnya kita akan melakukan Assign profil terdefinisi ke group-group yang sudah kita definisikan tadi.

5. Assign Profil Terdefinisi Ke Model Struktur

Karena kita sudah mengelompokan elemen secara group maka langkah assign dapat kita lakukan dengan sangat mudah.

5.1 Assign Balok Induk 25/50

1. Dari Kotak Properties, pilih Rect 0.5×0.25

a8

2. Sekarang pergilah ke menu Pulldown.

– Klik Select > By Group Name

aa11

3. Akan keluar kotak dibawah ini. Pilih G1: BALOK_INDUK

a9

4. Lihat portal anda. Balok induk yang tergroup tadi telah terselect secara otomatis

balok induk

5. Sekarang kembali lagi kekotak whole structure

a10

– Klik Assign To Selected Beams

– Klik Assign

– Akan keluar kotak konfirmasi, apakah profil akan didefinisi ke model struktur?,

ab4

 

 

– Klik Yes

Jika sudah maka hasilnya akan seperti ini, elemen yang terdefinisi diberi notasi oleh STAAD dengan notasi R1

ab5

5.2 Assign Balok Anak 20/40

1. Dari Kotak Properties, pilih Rect 0.4×0.2

a11

2. kembali ke kotak Select Group, Pilih G2:BALOK_ANAK

a12

3. Lihat portal anda. Balok anak yang tergroup tadi telah terselect secara otomatis

bp4

5. Sekarang kembali lagi kekotak whole structure

a13a

– Klik Assign To Selected Beams

– Klik Assign

– Akan keluar kotak konfirmasi, apakah profil akan didefinisi ke model struktur?,

ab4

 

 

 

– Klik Yes

Jika sudah maka hasilnya akan seperti ini, elemen yang terdefinisi diberi notasi oleh STAAD dengan notasi R2

a5

5.3 Assign Balok Konsol (Atap) 20/35

– Lakukan dengan cara yang sama seperti diatas

5.4 Assign Balok Konsol (Balkon) 20/30

– Lakukan dengan cara yang sama seperti diatas

5.5 Assign Kolom 30/30

– Lakukan dengan cara yang sama seperti diatas

Sehingga secara keseluruhan portal struktur kita telah terdefinisi seperti dibawah ini,

a6

Nah…Sekarang portal kita sudah terdefinisi baik profil ataupun materialnya. Tinggal memasukan beban-bebannya saja…tapi eitz tunggu dulu, cara memasukan bebannya kita bahas pada postingan berikutnya aja ya…coz lagi capek nich….hehehe.

Semoga bermanfaat !smile_wink

Perencanaan Ruko Dua Lantai Dengan Program Bantu STAAD Pro 2004 (Part 1)

Assalamualaikum Wr Wb, gimana nich kabar rekan-rekan sobat kampuz, saya doakan baik baik aja ya dan sukses selalu, dan saya berharap semoga perjalanan kita dalam menuntut ilmu senantiasa diridhoi oleh ALLAH SWT, pemilik singgasana arsy yang maha agung, yang menggenggam seluruh ilmu diseluruh penjuru alam semesta….. amin!

oh ya, untuk posting kali ini, saya akan membahas tentang perencanaan ruko dua lantai dengan program bantu STAAD Pro 2004. Kenapa kok saya sebut dengan program bantu?, yaitu karena STAAD hanya kita posisikan sebagai alat bantu hitung saja, sedangkan verifikasi hasil desain dan pengambil keputusan (judgement) tetap ditentukan oleh kita sebagai aktor utama (main aktor) dari perencanaan ruko ini,

Jadi STAAD ya STAAD, dia sebatas alat bantu program, bukan alat bantu yang memprogram kita. segala keputusan tetap kembali kepada kita

Nah…agar segala keputusan yang kita ambil tetap pada kendali kita, maka pengetahuan dasar yang cukup terhadap program dan mekanika teknik dirasa sangat penting sekali, karena pada dasarnya program aplikasi rekayasa teknik dituntut pengetahuan dasar yang mencukupi dari pengguna agar dapat memvalidasi dan memverifikasi hasil perhitungan berdasarkan ilmu mekanika teknik. Gunanya agar kita dapat mempertanggungjawabkan hasil analisa dalam aplikasi dibidang rekayasa teknik, baik dalam lingkup akademik ataupun profesional.

Mengapa saya mengatakan ini?….

Setidaknya ini adalah salah satu hal yang menyebabkan saya mengatakan ini….

Cosiderable time, effort and expense have gone into the development and documentation of STAAD. The program has been thoroughly tested and used. In using the program, however, the user accepts, and understands that no warranty is expressed or implied by the developers or the distributors on the accuracy or the reliability of the program.

The user must explicitly understand the assumptions of the program and must independently verify the results.

Silahkan pernyataan dari vendor penyedia program STAAD diatas dipahami baik-baik…

Ok! sekarang kita akan masuk ke inti bahasan kita. Yaitu perencanaan ruko dua lantai

Tampak depan

Tampak Depan

denah lantai 1

Denah LT 1

denah lantai 2 Denah LT 2

Rencana Balok

Rencana Balok LT 2

denah lantai atap

 Rencana Balok Atap

Untuk menjaga agar postingan tidak terlalu memanjang kebawah. Pembahasan perencanaan ruko dua lantai dengan program bantu STAAD Pro 2004, saya bagi menjadi empat bagian, sebagai berikut :

  1. Perencanaan ruko dua lantai dengan program bantu STAAD Pro 2004 (Part 1) – membahas cara memodel struktur
  2. Perencanaan ruko dua lantai dengan program bantu STAAD Pro 2004 (Part 2) – membahas cara mendefiniskan material dan profil penampang
  3. Perencanaan ruko dua lantai dengan program bantu STAAD Pro 2004 (Part 3) – membahas cara mendefinisikan beban dan assign pembebanan
  4. Perencanaan ruko dua lantai dengan program bantu STAAD Pro 2004 (Part 4) – membahas analisa struktur, design struktur dan verifikasi desain

Cara memodel Struktur :

Menyiapkan Main Window

Buka program STAAD, maka akan muncul kotak dialog New, atau jika kotak dialog New tidak keluar, Klik File > New. Maka kotak dialog New akan muncul seperti gambar dibawah ini.

kotak dialog new1. Tentukan tipe struktur yang akan dianalisa dengan mengklik radio button space,

2. Tentukan nama file di kotak form file name

3. Tentukan lokasi file dimana file tersebut akan disimpan dengan cara mengklik tombol kecil disamping kotak text box Location.

4. Tentukan unit yang akan dipakai, yaitu dengan mengklik meter pada frame length units

5. klik kilogram pada frame force units

6. Klik Next untuk melanjutkan

  kotak dialog pemodelan

7 Kotak dialog selanjutnya akan muncul, dimana STAAD akan menanyakan apa yang akan anda lakukan selanjutnya. Apakah akan membuat model struktur ataukah mengedit informasi dari pekerjaan anda. Disini anda akan menggambar portal 3D dengan cara memodifikasi portal 2D (di alih modif). Karena itu kliklah radio botton Add Beams. lalu klik Finish

8. Tampilan STAAD akan seperti gambar dibawah.

kotak menu9. Secara default tampilan / display dari page view ketika dibuka adalah bermodus isometri, oleh karena itu untuk lebih mudah dalam memodel / menggambar struktur, rubah dulu display ke modus view from Z+ . Untuk itu pada bagian menu toolbar rotate (disebelah kiri atas) klik ikon view from Z+ (lihat tool yang saya lingkari pakai warna merah pada gambar dibawah ini)

menu rotate 10. Setelah anda mengklik tombol view from Z+, tampilan page view akan menjadi seperti dibawah ini

modus tampilan11. Sekarang perhatikan kotak dialog Snap node Beam yang terletak disebelah kanan dari kotak page view. Atur parameter grid dari kotak dialog Snap Node/Beam tersebut seperti gambar dibawah ini

kotak parameter

Perhatikan pada frame Construction Lines (Yang saya lingkari No. 3). Karena bangunan kita lebarnya adalah 6 meter dan tinggi bangunannya adalah 7.70 meter, maka gridnya bisa kita isi X = 6, dan Y = 8, kemudian spasinya kita isi 1. Ini artinya tiap garis grid arah X dan Y, antara grid satu dengan grid yang lainnya berjarak 1 meter.

12. Setelah anda atur parameter diatas, maka modus view gridnya akan jadi seperti ini

grid

13. Nah…setelah grid sudah tertata dengan benar seperti diatas, maka sekarang kita akan memulai penggambaran. Pastikan snap node beams dalam kondisi terselect (lihat langkah no 11, perhatikan tool yang saya tandai dengan lingkaran warna merah dan angka 4).

smile_winkCatatan : fungsi tombol snap node beams itu sama seperti fungsi end point pada AutoCAD, yaitu untuk membantu menangkap ujung batang atau titik (joint) secara akurat.

Sekarang buat portal seperti gambar dibawah ini. Caranya : klik dititik (0,0), klik dititik (0,4), klik dititik (6,4), kemudian klik dititik (6,0), tekan Esc di keyboard. Kemudian secara berlanjut klik dititik (0,4), (0,8), (6,8), dan (6,4), tekan Esc. Jika benar maka jadinya seperti dibawah ini.

gb 1

14. Tinggi lantai dua dari bangunan kita adalah + 3.80 m, dan top atapnya adalah + 7.40 (lihat gambar tampak depan). Disekeliling atap dipasang bata setinggi 30 cm (untuk menjaga tampias air), sehingga tinggi total bangunan = +7.70 m. Nah…oleh karena portal kita sekarang tingginya 8 m,  maka kita harus edit dulu ketinggian dari portal diatas dengan cara menurunkannya sejauh 0.6 m, supaya level top atapnya menjadi 7.40 m.

15. Klik beams cursor

beam cursor

 

 

 

 

 

 

 

 

16. Seleksi frame batang sebelah atas (atap) dari portal yang sudah kita buat sebelumnya, lihat ilustrasi dibawah ini :

gb2

gb3

Garis yang anda seleksi tadi akan menjadi berwarna merah, ini mengindikasikan bahwa joint dan framenya telah terselesi sempurna dan tinggal menunggu perintah selanjutnya.

17. Tekan F2 di keyboard, maka akan muncul kotak dialog move seperti gambar dibawah ini.

moveKarena yang kita edit adalah ketinggiannya, maka hubungannya adalah dengan koordinat Y, oleh karena itu di kotak move beams selection (arah Y) isi dengan –0.6. Artinya batang dan nodes dipindah 0.6 meter kebawah. Lihat  gbr dibawah ini

gb 418. Nah, dengan cara yang sama lakukan juga untuk yang lantai dua ( turunkan nodes dan batang nya sejauh 4m – 3.80 m = 0.2 m), sehingga secara keseluruhan bentuk portalnya akan menjadi seperti ini, yaitu :

Elevasi Lantai 2 = + 3.80

Elevasi Atap = + 7.40

gb 5

19. Selanjutnya kita akan menduplikat portal diatas sebanyak 5 kali atau istilah teknik sipilnya adalah generasi batang. Caranya pilih semua batang dengan cara dari menu pulldown klik Select > By All > Beams

gb 620. Lihat hasilnya pada portal anda. Semua telah terseleksi sempurna (warnanya berubah jadi merah).

– Ubah display dalam modus isometri, klik tool  yang dilingkari pakai warna merah

view tool

21. Kemudian dari menu toolbar generate klik icon translational repeat (lihat yang saya lingkari pakai warna merah)

trans repeat

akan keluar kotak dialog 3D repeat. isi sesuai gambar dibawah ini, lalu klik OK

move

Catatan :

– Global direction = Arah duplikasi

– No of step = Jumlah bentang duplikasi

– Default Step Spacing = Jarak antar duplikasi

Untuk global direction klik Z, karena kita akan duplikasi portal ke arah Z, kemudian isi No of Step = 4, karena jumlah bentangnya = 4, Selanjutnya isi juga Default Step Spacing = 4, karena jarak duplikasi antar portalnya sejauh 4 m.

Jika benar maka hasilnya seperti ini

portal

Semua jarak antar portal yang ada di layar tampilan STAAD anda sekarang adalah 4 meter, padahal di gambar denah rencana kita,  jarak antara As C dan D adalah 3 meter. Supaya jarak antara portal As C dan D menjadi 3 meter, maka kita harus me-move (menggeser) portal As A, B dan C sejauh 1 meter mundur kebelakang (perhatikan ilustrasinya pada gambar dibawah ini)

portal 2

22.  Untuk me-move portal As A,B,dan C, seleksi portal A,B, dan C dengan cara klik titik 1 kemudian klik dititik 2 (lihat gbr dibawah ini)

seleksi portal1 Sehingga hasilnya seperti ini :

seleksi portal2

Anda lihat dilayar anda, ada beberapa elemen dari portal lain yang ikut terseleksi (elemen 1,2,3,4), untuk itu kita harus membatalkan seleksinya dengan cara tekan ctrl di keyboard (jangan dilepas) kemudian klik elemen 1,2,3 dan 4 sehingga sekarang hasilnya betul-betul hanya portal A,B dan C saja yang terseleksi

seleksi portal3 23. Klik F2 di keyboard anda, kemudian di Global Z, masukan nilai –1, artinya proses pemindahannya kearah sumbu Z sejauh 1 meter mundur kebelakang

move1

Jika benar maka hasilnya akan seperti ini,

portal fix Untuk membuktikan bahwa jarak portal As C dan D sekarang menjadi 3 meter, maka kita cek dengan meng klik icon tool dimension kemudian klik titik 1 dan 2, maka dimensi jaraknya akan muncul secara otomatis (lihat gambar dibawah)

cek portal

24. Buat element balok yang menghubungkan setiap portal. Dengan cara dari menu toolbar Geometri klik icon add beams  (beam cursor).

25. Sekarang ikuti saya, lihat gambar berikut sebagai ilustrasi visualnya

portal 4

Element balok lantai 2

-Klik titik 1 dan titik 2, Kemudian klik titik 2 dan titik 3, Kemudian klik titik 3 dan titik 4, Selanjutnya klik titik 4 dan titik 5

-Klik titik 6 dan titik 7, Kemudian klik titik 7 dan titik 8, Kemudian klik titik 8 dan titik 9, Selanjutnya klik titik 9 dan titik 10

Element balok atap

-Klik titik 11 dan titik 12, Kemudian klik titik 12 dan titik 13, Kemudian klik titik 13 dan titik 14, Selanjutnya klik titik 14 dan titik 15

-Klik titik 16 dan titik 17, Kemudian klik titik 17 dan titik 18, Kemudian klik titik 18 dan titik 19, Selanjutnya klik titik 19 dan titik 10

Jika langkah-langkah yang anda lakukan benar maka hasilnya akan seperti ini :

portal 5

Tekan Esc pada keyboard

Langkah selanjutnya adalah memasang balok anak,

26. Klik balok lantai 2 As-E, kemudian klik kanan, pilih insert node

portal6 

Akan keluar kotak Insert Node Into Beam

27. Isi distance = 4, kemudian klik Add New Point, Klik Ok

Sekarang anda lihat, element baloknya terpisah

balok terpisah

 

 

 

 

 

 

 

28. Sekarang klik elemen balok yang terpisah (lihat gambar dibawah ini), kemudian klik kanan pada mouse, pilih insert nodes

add point2

Akan keluar kotak Insert Node Into Beam

27. Isi distance = 2.9, kemudian klik Add New Point, Klik Ok (catatan : 2.9  didapat dari  4 –1.1). Jika langkah anda sudah benar, maka element balok lantai 2 as E sekarang telah terpisah menjadi 3 bagian.

28. Dengan cara yang sama, kita akan melakukan hal yang serupa terhadap balok lantai 2 di posisi as D.

– Klik balok tersebut, kemudian klik kanan pada mouse, pilih Insert Node

– Akan keluar kotak Insert Node Into Beam

– Isi distance = 2.9, kemudian klik Add New Point, Klik Ok (catatan : 2.9  didapat dari  6 –3.1). Jika langkah anda sudah benar, maka element balok lantai 2 as D sekarang telah terpisah menjadi 2 bagian.

29. Sekarang kita akan pasang balok anak. Klik tool add beams  add beam, kemudian klik titik 1 dan titik 2 (lihat gambar)

portal beams Jika benar maka hasilnya seperti ini

portal 6

Tekan Esc pada keyboard

30. Klik balok yang baru saja kita buat tadi, kemudian klik kanan pada mouse, pilih insert node

add point 3

– Akan keluar kotak Insert Node Into Beam

– Isi distance = 1.5, kemudian klik Add New Point, Klik Ok. Jika langkah anda sudah benar, maka  sekarang element balok telah terpisah menjadi 2 bagian.

– Lakukan juga langkah diatas terhadap balok as 2,( D – E )

add point 4

– Klik balok tersebut, kemudian klik kanan pada mouse, pilih insert node

– Akan keluar kotak Insert Node Into Beam

– Isi distance = 1.5, kemudian klik Add New Point, Klik Ok. Jika langkah anda sudah benar, maka  sekarang element balok as  2,(D – E)  telah terpisah menjadi 2 bagian.

31. Jika anda sudah melakukannya dengan benar, maka sekarang balok anak yang menyangga kamar mandi sudah bisa kita pasang. Caranya klikadd beams kemudian klik titik 1 kemudian klik titik 2 (lihat gambar dibawah ini)

add point 5 

Tekan Esc pada keyboard

32. Sekarang klik balok anak yang barusan saja kita buat tadi, kemudian klik kanan pada mouse, pilih insert node

– Akan keluar kotak Insert Node Into Beam

– Isi distance = 1.1, kemudian klik Add New Point, Klik Ok. Jika langkah anda sudah benar, maka  sekarang element balok anak tersebut telah terpisah menjadi 2 bagian

33. Jika sudah, sekarang kita pasang balok anak berikutnya. Klikadd beams , kemudian klik titik 1 dan titik 2 (lihat gambar dibawah ini)

add point 6

Tekan Esc pada keyboard

34. Sekarang kita akan membuat balok anak lantai 2, pada posisi antara as B dan C.

– Klik balok lantai 2 as B, kemudian klik kanan, pilih insert node

– Akan keluar kotak Insert Node Into Beam

– Karena posisi balok anaknya tepat di tengah, maka cukup di klik tombol Add mid point saja, kemudian klik OK

add point6

– Jika sudah, maka lakukan hal yang serupa terhadap balok lantai 2 as C, sehingga secara keseluruhan dua balok tersebut (yaitu balok as B dan C) telah terpisah tepat ditengah bentang.

35. Pasang balok anak yang menghubungkan antara balok induk as B dan as C, dengan cara seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, sehingga hasilnya akan seperti ini

add point 7

36. Sekarang kita akan membuat balkon

– Tekan Esc pada keyboard

– Klik balok ini (lihat gambar dibawah ini)

bp1 – Klik Tool Translational Repeat trans repeat 2

– Isi seperti dibawah ini

aanew

– Hasilnya seperti ini

bp 2

37. Sekarang klik, balok yang baru kita buat tadi (lihat gambar bawah)

add point7

– Klik kanan pada mouse lalu pilih insert node

– Akan keluar kotak Insert Node Into Beam

– Karena posisi panjang balkon kita adalah 2m x 0.8m, maka pada kotak Insert Node Into Beam, di bagian distance isi dengan nilai 2, kemudian klik Add New Point, setelah itu klik Ok.

38. Sekarang lakukan hal yang sama seperti diatas terhadap balok ini (lihat gambar dibawah ini)

bp 3

– Klik Balok tersebut

– Klik kanan pada mouse, lalu pilih insert node

– Akan keluar kotak Insert Node Into Beam

– Karena posisi panjang balkon kita adalah 2m x 0.8m, maka pada kotak Insert Node Into Beam, di bagian distance isi dengan nilai 2, kemudian klik Add New Point, setelah itu klik Ok.

39. Sekarang klik tomboladd beams  , kemudian hubungkan node nya, sehingga terbentuk balok seperti gambar dibawah ini

add point 8

– Tekan Esc, pada keyboard

– Hilangkan balok overstek (lihat gambar atas). Caranya klik balok tersebut, kemudian tekan delete pada keyboard anda ( jangan lupa jointnya juga harus dihapus )

– Tekan Esc, pada keyboard

40. Sekarang kita akan membuat balok atapnya. Caranya anda copy dulu baloknya dengan translational repeat trans repeat 2.

kemudian seperti biasa anda buat balok atau element penghubungnya dengan tool add beamadd beams . Semua langkah dan caranya sama seperti pada point sebelumnya. (Pasti bisa kan……), dan kalau benar, maka hasilnya akan seperti dibawah ini

fix portal

 

Nah…. sekarang portal kita sudah jadi, sekarang kita akan lanjut ke posting selanjutnya yaitu

Perencanaan ruko dua lantai dengan program bantu STAAD Pro 2004 (Part 2) – membahas cara mendefiniskan material dan profil penampang

– Semoga bermanfaat…..smile_wink

Tabel Konversi Satuan Untuk Teknik Sipil

Satuan?…Pentingkah?

Penting!,

Gampangnya gini, …cobalah anda pergi ke toko sembako, kemudian bilang ke penjualnya

“Pak beli berasnya satu…..”

yakin dech pasti penjualnya pasti balik tanya karena bingung “satu apa mas?“ 

Nah penting kan satuan itu…, jadi perlu diperjelas, satunya satu apa?, satu biji apa satu kilo (kalau satu biji gak mungkin dech hehehe)

ini baru satu contoh brow….hehehe, contoh berikutnya seperti ini

kalau anda sedang merenovasi rumah, dan berniat untuk beli bahan bangunan, kemudian tanyalah ke penjualnya seperti ini :

  1. Pak, beli besinya sepuluh, harganya berapa?
  2. Bu, beli pasirnya dua, kerikilnya satu, berapa harganya?

kira-kira penjualnya bingung ndak?

Jadi perlu diperjelas, sepuluh itu sepuluh apa? lonjor apa kilo?, terus pasir dan kerikilnya nya dua gledek atau dua kolt atau apa….

Jadi inilah pentingnya dari satuan itu, karena menjadi identitas dari bilangan atau angka yang kita sebutkan 

Ok! sekarang kita masuk ke pembicaraan utama kita, yaitu konversi satuan.

Berbicara tentang konversi-mengkonversi, jujur saja dulu saya sempat bingung, semisal 1 Mpa itu berapa t/cm2 ? kg/cm2 ?, atau 1 N.mm itu berapa kg.cm? kg.fit? kg.in?…,nah kadang-kadang hal-hal seperti itu bikin kepala saya dikit puyeng lho (maklum soalnya saya ini orangnya agak lemot hehe)

Nah…untuk mengatasi kebingungan saya (biar kepala nggak puyeng hehe), maka saya buat tabel kecil konversi satuan, yang tentu saja saya ambil satuan-satuan yang penting saja khususnya untuk hitung menghitung di lingkup teknik sipil. tabelnya seperti dibawah ini :

tabel konversi panjang

tabel konversi area

tabel konversi berattabel konversi sudut  tabel konversi volume tabel konversi tekanantabel konversi momen

Baris yang saya blok pakai warna hijau tua adalah angka dan satuan yang akan dikonversi, sedangkan baris, kolom yang saya blok pakai warna hijau muda adalah hasil konversinya. Perhatikan angka dan satuan yang saya blok pakai warna hijau tua, untuk angkanya saya ambil mudahnya yaitu angka 1 (untuk selanjutnya ini disebut sebagai angka pengali), sedangkan untuk satuannya saya ambil yang familiar bagi kita yaitu kilogram (kg), meter (m), degree (deg) (satuan MKS ‘meter, kilogram, second).

Terus bagaimana cara penggunaanya ?

Tinggal dilakukan perbandingannya saja, dan saya rasa pasti rekan-rekan sudah tahu semuanya to hehehe….

Konsep konversi-mengkonversinya saya rumuskan sebagai berikut :

rumus konversi

Contoh 1

0.5 cm = …….fit

Jawab :

angka pengalinya = 0.5

satuan lama = cm

satuan baru yang diinginkan = fit

  1. Sesuaikan dengan tabel konversi diatas
  2. Ambil angka (nilai) yang ada di tabel untuk dijadikan perbandingan

contoh 1 

0.5 cm  =  (3.2808/100) x 0.5

0.5 cm  = 0.0164 fit

Contoh 2

30 kip = …….N

Jawab :

angka pengalinya = 30

satuan lama = kip

satuan baru yang diinginkan = N

  1. Sesuaikan dengan tabel konversi diatas
  2. Ambil angka (nilai) yang ada di tabel untuk dijadikan perbandingan

contoh 2

30 kip  =  (9.80665 / 2.20E-03) x 30

30 kip  = 133500 N

Contoh 3

25 Mpa = ……. kg/cm2

Jawab :

angka pengalinya = 25

satuan lama = Mpa

satuan baru yang diinginkan = kg/cm2

  1. Sesuaikan dengan tabel konversi diatas
  2. Ambil angka (nilai) yang ada di tabel untuk dijadikan perbandingan

contoh 3

25 Mpa  =  (1.00E-04 / 9.81E-06) x 25

25 Mpa  = 254.929 kg/cm2

Sampai disini, mudah kan…….

Oh iya, Jika rekan rekan ingin

  • download tabel diatas dalam format excel, klik aja disini
  • download tabel diatas dalam format PDF, klik aja disini

Semoga bermanfaat…….

Eko Hidraulik Vs Banjir !

 Eko-Hidraulik Ramah Lingkungan-Suatu Konsep Baru untuk Menanggulangi Banjir dan Kerusakan Lingkungan di Wilayah Keairan

 

Pada kesempatan Seminar Nasional Eko-Hidraulik tanggal 28-29 Maret 2001, Universitas Gadjah Mada kembali melahirkan sebuah asosiasi profesi yang sangat penting kaitannya dengan penanggulangan banjir dan kerusakan lingkungan di wilayah keairan. Asosiasi tersebut diberi nama Asosiasi Eko-Hidraulik Indonesia dan disingkat ASEHI. Tujuan asosiasi ini adalah untuk mengembangkan dan memasyarakatkan konsep baru Eko-Hidraulik ke seluruh lapisan masyarakat dalam rangka menyelamatkan keragaman hayati wilayah keairan (sungai, danau, rawa, dan pantai) serta menanggulangi dampak negatif yang ditimbulkan oleh rekayasa hidraulik murni di wilayah keairan misalnya banjir dan erosi dasar/tebing sungai. Berdirinya ASEHI ini sekaligus sebagai tanda berbaliknya para ahli Teknik Sipil Hidro dari pemahaman parsial (hidraulik murni) dalam mengelola wilayah keairan ke pemahaman integral yang memasukkan pertimbangan ekologi daham penanganan masalah di wilayah keairan.

Pembangunan wilayah keairan di seluruh dunia dewasa ini sebagian besar masih menggunakan pola pendekatan rekayasa Teknik Sipil Hidro secara parsial. Sehingga hasil rekayasa tersebut sangat terkesan jelas lepas, bahkan bertentangan dengan kepentingan kelestarian ekologi atau lingkungan. Pola rekayasa hidraulik murni diartikan bahwa dalam penyelesaian masalah di wilayah keairan hanya didasarkan pada fungsi hidraulik wilayah keairan itu saja, tanpa mempertimbangkan dampak negatif dan keterkaitanya terhadap komponen ekologi yang ada. Sebagai misal fungsi suatu sungai, menurut konsep hidraulik murni, sungai hanya dipandang sebagai suatu saluran hidraulik pembuangan air kelebihan menuju ke laut. Jadi dengan konsep ini, semua sungai sebaiknya diluruskan atau ditalud sehingga air dapat secara cepat mengalir ke hilir. Dengan konsep ini komponen ekologi sungai otomatis akan hancur total. Gambar berikut ini menyajikan suatu ilustrasi rekayasa hidraulik murni terhadap suatu sungai.

tampang sungai                         sumber :http://bebasbanjir2025.wordpress.com

Gambar di sebelah atas adalah kondisi wilayah sungai yang masih alamiah. Pada gambar tersebut terlihat kesatuan antara faktor ekologi dan hidraulik. Pada sungai yang masih alami biasanya selalu memiliki tampang melintang yang heterogen/bervariasi dan ditumbuhi vegetasi yang cukup lebat. Kondisi habitat seperti ini menguntungkan berbagai jenis flora dan fauna sungai (reptil, mamalia sungai, amphibia sungai, ikan, zoobenthos, dan lain-lain). Di samping itu ternyata vegetasi ini mempunyai fungsi hidraulik yang sangat vital yaitu sebagai komponen resistensi banjir dan resiatensi erosi dasar dan tebing sungai. Di sini terlihat jelas bahwa antara faktor ekologi dan hidraulik sebenarnya saling mendukung. Pada saat banjir, vegetasi di sepanjang sungai akan berfungsi sebagai faktor retensi yang akan menghambat kecepatan aliran sungai ke daerah hilir. Karena kecepatan air diperlambat maka muka air akan naik dan menggenangi daerah bantaran sungai di mana vegetasi tumbuh. Penggenangan daerah bantaran secara dinamis dengan durasi alamiah ini justru sangat diperlukan oleh flora dan fauna sungai guna kelangsungan hidupnya.

Rekayasa hidraulik murni atau konvensional yang dilakukan akan merubah total kondisi alamiah sungai menjadi kondisi sungai buatan (saluran-selokan) seperti pada gambar diatas (bagian bawah). Ditinjau dari sisi ekologi maupun hidraulik, kondisi sungai yang telah tereksploitasi ini sangat tidak menguntungkan. Sungai dengan dinding pasangan batu, beton, atau urugan tanah semacam ini memiliki retensi banjir dan erosi yang sangat rendah dan juga memiliki keragaman hayati yang amat sangat rendah dibanding dengan sebelumnya.

Sebagai contoh konkrit kefatalan pendekatan hidraulik murni/ konvensional adalah kejadian di Sungai Kissimmee, Florida Amerika Serikat; kejadian di Sungai Rhine, Jerman, dan kejadian di Sungai Bengawan Solo, Indonesia.

pelurusan sungai 1

Pelurusan Sungai Kissimmee yang tadinya berbelok berliku secara alami, telah merusak ekosistem sungai dan danau di Florida Amerika Serikat. Semula Sungai Kissimmee yang mengalir berupa meander sepanjang 150 km, diluruskan menjadi 70 km, sehingga habitat bagi satwa yang tadinya seluas 16.000 ha rawa tinggal tersisa 400 ha, sebanyak 75% punah. Akibatnya elang dan rusa, buaya dan ikan menghilang, burung rawa terbunuh atau migrasi ke tempat lain. Sebelum Sungai Kissimmee diluruskan, Danau Okeechobee yang menampung/menerima air sungai itu, kaya akan berbagai jenis ikan dan sekelilingnya subur serta hijau. Sesudah pelurusan sungai, di danau tersebut sering dijumpai ikan yang mati dalam jumlah ratusan ton, tanaman di sekitar danau mengering. Air menjadi kotor, padahal danau tersebut merupakan sumber air minum untuk Kota Miami dan beberapa kota disekitarnya. Diketemukan oleh ahli biologi, ternyata ekosistem rawa berperan sebagai penyaring air agar menjadi jernih (Chiras, 1988; Tanjung & Maryono, 2001).

Pelurusan dan pembangunan bendung di Sungai Rhine di Eropa yang merubah Sungai Rhine yang tadinya berkelok-kelok menjadi lurus-lurus dan terpotong-­potong oleh bangunan bendung dari daerah hulu sampai dengan hilir, ternyata telah menyebabkan kepunahan ikan salmon dan berbagai jenis ikan lainnya. Hasil tangkapan ikan salmon yang pada tahun 1901 masih mencapai sebanyak lebih dari 300.000 ekor maka pada tahun 1970-an tidak ada hasil tangkapan sama sekali. Di samping hal tersebut, segala macam jenis flora dan fauna pinggir sungai berkurang sangat drastis dan bahkan sebagian besar punah. Di daerah Rhine bagian atas saja telah terjadi pelurusan sungai dart 350 km panjang sungai alamiah menjadi 270 km sungai buatan dan mematikan habitat ekologi daerah pinggir sungai seluas 870.000 ha (Maryono, 2001).

Di Indonesia, baru-baru ini dilaporkan bahwa pelurusan Sungai Bengawan Solo di daerah Sukoharjo, Surakarta, dan Karanganyar yang merubah alur sungai alamiah sepanjang 50 km menjadi kurang dari 35 km, telah mengakibatkan munculnya masalah-masalah baru, tidak hanya masalah ekologi namun juga masalah sosial dan higienis bahkan juga masalah peningkatan tendensi banjir di hilir. Akibat pelurusan tersebut adalah sepanjang 15 km habitat flora dan fauna pinggir sungai hancur, sungai-sungai yang terputus menjadi sungai mati dan merupakan sarang,,, nyamuk dan penyakit lainnya; dengan pelurusan ini tercipta daerah-daerah yang terisolir dan terputus hubungannya dengan dunia luar seluas 525,85 ha dan ancaman banjir kiriman di daerah hilir seperti daerah Ngawi, Bojonegoro dst (Sudarta, 2001).

Dengan laju perkembangan kesadaran lingkungan dan kesadaran berpikir holistik dunia internasional dewasa ini, serta ditemukannya berbagai dampak negatif yang sangat besar dari rekayasa hidraulik murni seperti disebutkan di atas, maka pola pikir rekayasa hidraulik secara parsial ini sejak tahun 80-an di dunia internasional mulai ditinggalkan. Kemudian dikembangkan pola rekayasa interdisipliner baru dengan memasukkan pertimbangan ekologi pada setiap penyelesaian masalah keairan.

Island with a palm treePendekatan interdisipliner Eko-Hidraulik ini dipandang sebagai suatu pola pendekatan baru yang bisa diterima baik dari orang-orang ekologi maupun Teknik Sipil Hidro serta memiliki keberlanjutan yang tinggi. Karena pendekatan yang digunakan sudah memasukkan pertimbangan faktor fisik (hidraulik) maupun non fisik (ekologi) yang masing-masing memegang peranan penting pada wilayah keairan.

Di berbagai negara maju seperti Jerman, Amerika, Kanada, dan sebagian besar negara Eropa sudah pada sekitar tahun 80 dimulai pengembangan dalam pengaplikasian konsep Eko-Hidraulik. Perubahan ke arah konsep Eko-Hidraulik tersebut ditandai dengan dikembalikannya sungai-sungai yang telah diluruskan menjadi berkelok-kelok lagi seperti sungai alamiah (contoh Sungai Kissimmee dan anak-anak Sungai Rhine). Juga dihidupkannya kembali daerah-daerah terisolir secara ekologi akibat pelurusan sungai, dihidupkannya kembali daerah rawa-rawa sebagai retensi, konservasi, dan komponen perbaikan kualitas air. Sementara di daerah pantai diadakan penghentian terhadap usaha pemusnahan tanaman-tanaman pinggir pantai misalnya mangrove dan lain-lain.

Natchan3i

Di Indonesia penyelesaian masalah keairan dengan pendekatan Eko-Hidraulik belum dimulai, kebanyakan masih menggunakan pola pendekatan lama yakni hidraulik murni. Bahkan masih banyak rencana-rencana pelurusan sungai di berbagai tempat misalnya di Bengawan Solo, Ciliwung, Mahakam, Kapuas, dan lain sebagainya. Pemasyarakatan konsep Eko-Hidraulik di Indonesia sudah sangat mendesak untuk dilakukan, mengingat semakin banyaknya kerusakan lingkungan di wilayah keairan dan banjir akibat rekayasa hidraulik murni beberapa dekade yang lalu.

 

Sumber data :

Kompas, 9 September 2001, oleh Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono
Eko-Hidraulik Ramah Lingkungan-Suatu Konsep Baru untuk Menanggulangi Banjir dan Kerusakan Lingkungan di Wilayah Keairan
dalam buku :
EKO-HIDRAULIK
Pengelolaan Sungai Ramah Lingkungan
Menanggulangi Banjir dan Kerusakan Lingkungan Wilayah Sungai
Dr.-Ing.Ir.Agus Maryono

Pelurusan, Sudetan & Tanggul Sungai, Efektifkah Melawan Banjir?

Pelurusan, Sudetan, dan Pembuatan Tanggul Sungai Justru Menyebabkan Banjir Besar

Mendesak sekali permasalahan banjir akhir-akhir ini untuk dikaji secara mendalam guna mencari solusi penanggulangannya. Banjir dengan diikuti tanah longsor yang belakangan ini menghantam di berbagai daerah di Indonesia seperti di Jakarta, Cilacap, Purwakarta, Semarang, Padang, Aceh, dan lain-lain; demikian juga banjir yang terjadi di belahan benua Eropa dan Amerika, seperti banjir di Belanda, di Jerman, di Perancis, di Kalifornia dan Florida beberapa tahun lalu telah menyentak pikiran para ahli sungai dan ahli hidrologi di seluruh dunia guna mencari sebab dan pemecahannya. Bahkan kenapa di Jerman, Perancis, Belanda, dan Amerika yang terkenal dengan kemajuan teknologi persungaiannya tahun­-tahun belakangan ini sering terancam banjir-banjir besar tahunan terus-menerus.

Sedikitnya ada tiga faktor yang berpengaruh terhadap kejadian banjir; yakni faktor hujan, faktor perubahan tata guna lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS), dan Faktor kesalahan perencanaan pembangunan alur sungai. Faktor hujan (tingkat kederasan, sebaran serta waktu turunnya) merupakan faktor yang sifatnya makro dan external yang sulit untuk diadakan perubahan oleh rekayasa manusia. Faktor perubahan tata guna lahan di DAS hubungannya dengan banjir nampaknya sudah dipahami oleh banyak khalayak, di mana semakin rusak suatu DAS (karena penebangan hutan, pembangunan pusat olah raga, pembangunan pemukiman besar­-besaran, pembukaan areal untuk perkebunan, dan lain-lain) maka semakin meningkat intensitas banjir di DAS tersebut. Sedang kesalahan perencanaan alur sungai merupakan faktor yang sangat dominan yang saat ini di tingkat internasional sangat intensif didiskusikan. Faktor ini diduga kuat merupakan penyebab banjir-banjir tahunan di berbagai negara. Oleh karena itu uraian dalam artikel ini akan difokuskan mengenai pengaruh faktor kesalahan perencanaan pembangunan alur sungai terhadap banjir.

Sungai-sungai di Indonesia 30 tahun terakhir ini mengalami peningkatan pembangunan fisik yang relatif cepat. pembangunan fisik tersebut misalnya pembuatan sudetan-sudetan, pelurusan-pelurusan, pembuatan tanggul sisi, pembetonan/ pengerasan tebing baik pada sungai besar maupun kecil. Hal ini akan berakibat terjadinya percepatan aliran air menuju hilir. Sungai di bagian hilir akan menanggung volume aliran air yang lebih besar dalam waktu yang lebih singkat dibanding sebelumnya. Jika tampung sungai di hilir tidak mencukupi maka akan terjadi banjir. Pelurusan, sudetan, pembuatan tanggul-tanggul pembatas dan pembetonan/perkerasan tebing sungai pada hakekatnya merupakan penghilangan retensi atau pengurangan kemampuan retensi sungai terhadap aliran airnya yang berarti juga merupakan penciptaan masalah banjir baru di bagian hilir. Mungkin di daerah hulu, di bagian yang di luruskan, masalah banjir dapat diatasi, namun di bagian hilirnya akan menerima beban banjir yang lebih besar. Jika aktivitas ini dilanjutkan terus maka dapat dipastikan pada tahun 2050 nanti sungai-sungai di Indonesia seperti Bengawan Solo, Brantas, Citarum, Cisadane, Musi, dan lain-lain akan selalu mendatangkan banjir bandang setiap tahun. Akibat berikutnya adalah erosi dasar sungai yang tidak bisa diprediksi lokasinya dan tanah longsor di pinggir kanan-kiri sungai akibat peningkatan kecepatan air dan peningkatan volume air di sungai tersebut. Dampak negatif lainnya adalah terjadinya kerusakan lingkungan akibat makin berkurangnya keragaman hayati di areal wilayah sungai. Kelangkaan ini disebabkan oleh aktivitas pelurusan, sudetan, pembuatan tanggul, dan perkerasan sisi yang sekaligus berarti menghilangkan habitat flora-fauna dan ekosistem di sepanjang sungai.

Pola pembangunan persungaian dengan model pelurusan, sudetan, dan pembuatan tanggul ini sama persis seperti yang telah dilakukan oleh negara-negara Eropa dan Amerika awal tahun 1800-an sampai tahun 1980-an yang lalu. Karena memang model pembangunan wilayah sungai di Indonesia meniru model yang dilakukan di Eropa. Kasus yang sangat terkenal di dunia persungaian internasional adalah pembangunan dan restorasi Sungai Rhine di Jerman dan juga Sungai Kissitnmee di Florida Amerika Serikat. Sungai Rhine dan anak-anak sungainya mulai tahun 1800-an sampai tahun 1980-an telah diadakan pelurusan, sudetan, pembuatan tanggul, serta penghilangan retensi aliran sepanjang sungai secara besar­besaran. Aktivitas ini dulu dilakukan salah satunya bertujuan untuk menanggulangi banjir-banjir kecil lokal di Sungai Rhine. Langkah ini terbukti sekarang justru sebaliknya mengakibatkan banjir-banjir besar yang hampir setiap tahunnya melanda kota-kota di sepanjang Sungai Rhine, seperti kota Bonn, Koln, Mainz, dan kota­-kota bagian hilir sungai lainnya. Juga di berbagai daerah di sepanjang Sungai Rhine terjadi erosi dasar sungai yang disebabkan oleh peningkatan kecepatan air akibat aktivitas tersebut.

rhine-valley

                                       Sungai Rhine Jerman

flood rhine (jerman)                        Banjir melanda kota disepanjang sungai rhine

Erosi dasar sungai ini mengancam keselamatan jembatan-­jembatan yang ada di sepanjang Sungai Rhine dan juga menyebabkan longsornya/ tergerusnya tebing-tebing sungai di berbagai tempat. Dari kacamata lingkungan hidup, dampak negatifnya adalah terjadinya penurunan yang sangat drastis pada jumlah serta keragaman flora dan fauna sepanjang Sungai Rhine. Dengan diketahuinya berbagai dampak negatif tersebut, maka di Jerman sekarang ini diadakan proyek besar-besaran dengan dana yang sangat besar untuk mengembalikan sungai-sungai yang telah diluruskan sejauh mungkin ke kondisi semula. Hal yang sama juga dilakukan oleh Amerika Serikat. Pemerintah negara bagian Florida terpaksa harus rela mengeluarkan dana tidak kurang dari US$ 2.000.000.000, untuk mengembalikan Sungai Kissimmee ke kondisi naturnya (alamiahnya).

Jika Indonesia masih saja menerapkan pola pembangunan sungai berupa pelurusan, sudetan, pembetonan sisi sungai, dan pembatasan limpasan aliran sungai dengan tanggul-tanggul seperti pola yang dilakukan Jerman dan Amerika dekade yang lain, maka dapat dipastikan akan mengalami akibat yang sama. Bahkan akibat buruknya dapat lebih dahsyat lagi karena karakteristik hujan dan sungai di Indone­sia jauh lebih ekstrim.

Contoh konkrit untuk kasus serupa di Indonesia adalah pembangunan Sungai Bengawan Solo. Di bagian hulu, dari Wonogiri sampai Karanganyar, telah diadakan pembangunan tanggul, pelurusan, sudetan, dan pembersihan retensi dengan penghilangan tumbuh-tumbuhan di pinggir kanan-kiri sungai maupun dengan perkerasan dinding sungai. Usaha ini dimaksudkan untuk menyelamatkan kota Solo (Surakarta) dari banjir dengan cara mengalirkan secepat-cepatnya air yang melewati kota tersebut. Namun air yang mengalir cepat ini, tidak disadari, akan menerjang daerah-daerah bagian hilir setelah kota Solo seperti daerah Bojonegoro dst. Daerah tersebut akan menerima beban aliran yang lebih besar daripada sebelumnya. Maka dapat dipastikan bahwa daerah tersebut nantinya akan mengalami banjir kiriman dari Solo. Guna menanggulangi banjir kiriman ini, selanjutnya daerah bagian hilir diprediksi akan juga berusaha membuat tanggul-tanggul, sudetan-­sudetan dan pelurusan-pelurusan serupa. Demikian seterusnya hingga tanggul, sudetan, pelurusan, dan perkerasan tebing sungai ini akan berjalan dari hulu sampai ke daerah paling hilir di Tuban. Akhirnya. jika tidak ada rekayasa baru yang merevisi cara pembangunan sungai ini, Sungai Bengawan Solo lima puluh tahun lalu (tahun 2050) dapat dipastikan menjadi sungai buatan yang kelihatannya rapi, lurus-lurus, bertanggul di sisi kanan-kirinya tapi amat sangat labil dan berbahaya.

Langkah penyelesaian dengan menghidupkan/ mengaktifkan kembali retensi di sepanjang alur aliran sungai, dengan meningkatkan kualitas ekosistem serta habi­tat flora dan fauna sepanjang sungai, tidak secara mudah membuat pelurusan pelurusan sungai, pembuatan tanggul-tanggul, dan sudetan-sudetan adalah langkah yang dirasa paling tepat. Langkah ini berarti meredam banjir di sepanjang sungai dengan menggunakan retensi sungainya sendiri. Tapi, sebagai konsekuensinya akan mungkin terjadi luapan/ banjir kecil-kecil di berbagai tempat di sepanjang alur sungai. Namun hal justru ini lebih baik, dibanding banjir sangat besar yang menerjang suatu daerah tertentu saja. Di samping itu perlu diketahui bahwa justru banjir-banjir kecil itu sangat diperlukan bagi perkembangan dan kelangsungan ekosistem, flora-fauna, dan habitatnya di sepanjang wilayah sungai. Dengan suburnya habitat ini maka semakin tinggi pula tingkat retensi/ daya redam sungai tersebut terhadap banjir. Banjir kecil-kecil ini juga berfungsi untuk menjaga stabilitas muka air tanah serta meningkatkan konservasi air permukaan.

sungai code yogya (ditanggul)                     Sungai code, Yogyakarta (diluruskan/ditanggul)

sungai code yogya                     Sungai code, Yogyakarta (alami)

Demikianlah faktor kesalahan pembangunan alur sungai, yang dapat menyebabkan terjadinya banjir selama ini, di samping faktor hujan dan perubahan tata guna lahan DAS yang telah disebutkan di atas. Agar kita dapat lebih waspada terhadap kemungkinan banjir di saat sekarang ini dan banjir yang akan terjadi puluhan tahun yang akan datang serta kerusakan lingkungan yang menyertainya, maka perlu perencanaan pembangunan alur sungai (beserta DAS-nya) secara inte­gral dengan mengambil pengalaman-pengalaman kesalahan perencanaan sungai di negeri-negeri maju, yang sekarang akibatnya telah dialami oleh mereka dan dapat dilihat dengan jelas. Jangan sampai pembangunan sungai yang sekarang ini justru memberikan pekerjaan yang lebih besar pada generasi yang akan datang untuk mengoreksinya.

Sumber data :

Kompas, 28 Januari 2001, oleh Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono
Pelurusan, Sudetan, dan Pembuatan Tanggul Sungai Justru Menyebabkan Banjir Besar
dalam buku :
EKO-HIDRAULIK
Pengelolaan Sungai Ramah Lingkungan
Menanggulangi Banjir dan Kerusakan Lingkungan Wilayah Sungai
Dr.-Ing.Ir.Agus Maryono